Skip to main content
← Semua tulisan
PengalamanDiterbitkan 11 Juni 20203 menit baca

Tulisan Kedua

Lanjutan kesaksian Jemmy tentang pelajaran rohani, kebiasaan menghakimi orang lain, dan cara Tuhan mengubah kehidupan melalui kasih karunia.

Pengalaman

Tulisan kedua ini bisa dikatakan adalah bagian dari Tulisan pertama, selanjutnya saya berjanji akan membuat judul tulisan dengan lebih baik, hehe.

Cerita ini bermula ketika pelajaran demi pelajaran yang saya dapatkan di Pelatihan Medical Missionary, selanjutnya akan disingkat PMM, jika Anda telah membaca Tulisan Pertama Anda mungkin telah membaca bahwa akhirnya saya “terjebak” dalam PMM dan mengikuti setiap pelajaran demi pelajaran disana tetapi jangan lupa saya menemukan cinta sejati di sana juga :D.

Setelah banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan bahkan saya menyisikan waktu sendiri untuk membaca buku-buku Pena Inspirasi dan sangat terharu dengan apa yang Tuhan telah nyatakan. Ada satu masalah yang Kristus perlu melakukan sesuatu terhadapnya.

Saya menjadi seseorang yang senang sekali menghakimi orang lain. Ya, saya mulai membandingkan diri saya dengan orang lain, saya mulai merasa bahwa orang-orang perlu banyak belajar tentang apa yang sekarang saya telah temukan, saya mulai senang menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain.

Ada satu waktu ketika saya belajar tentang Acting vs Witnessing dan belajar tentang Drama/Fragmen didalam Gereja, saya mengikuti acara PA di kampus tempat dimana saya berkuliah dan mulai melihat Drama atau Fragmen ini dilakukan disana, akhirnya saya memilih untuk keluar dari Gereja dan mulai menunjuk-nunjuk kesalahan yang terjadi di Gereja, di Kampus saya. (ini bukanlah tindakan yang benar yang dilakukan oleh orang yang mengaku pengikut Kristus).

Setelah beberapa kali hal ini terjadi di Gereja, saya dan beberapa teman yang mengikuti PMM akhirnya memutuskan untuk keluar dari Gereja setiap acara PA dan membuat kebaktian sendiri di Prayer Garden belakang Gereja.

Ketika saya pulang kerumah saya mulai memasak sendiri makanan saya dan tidak memakan makanan yang dibuatkan oleh orang tua saya dengan alasan bahwa makanan yang mereka buat tidak sehat, terlalu banyak minyak, menggunakan micin dan terlalu banyak yang di goreng.

Saya juga sering menghakimi mereka dengan musik yang mereka putar, dan tontonan-tontonan, kata-kata yang mereka keluarkan dan saya mulai mengurung diri saya di kamar di depan lemari buku dan mulai membaca setiap buku-buku Pena Inspirasi disana, dikamar saya bisa menghabiskan waktu seharian tanpa bersosialisasi dengan orang-orang rumah, tanpa mengerjakan pekerjaan rumah, dan hanya “makan – baca – tidur – baca – makan” selama berhari-hari.

Bahkan pernah sekali, ada Pendeta yang mengeluh bahwa dia saat makan sayur Daun Singkong pasti kakinya akan terasa sakit tetapi jika ia memakan ikan kakinya tidak terasa sakit, saya sampai berkata kepada Pendeta itu untuk coba membaca Kej 1:29 dan Kej 3:18, saya sampai katakan bahwa “Pak Pendeta suka baca Alkitab tidak sih ?” dan saya menjelaskan panjang lebar tentang kemungkinan kakinya sakit karena makan daun singkong.

Dengan semua yang saya alami saya merasa bahwa saya lebih daripada orang lain, pengetahuan yang saya miliki ini adalah pengetahuan yang orang lain belum ketahui dan mereka harus belajar kepada saya, orang tua saya, jemaat di tempat saya bergereja dan bahkan Pendeta yang sementara berkhotbah. saya mulai malas mendengarkan Pendeta berkhotbah yang hanya menyampaikan hal-hal biasa saja tanpa menegur dosa-dosa.

Di satu sisi keinginan besar untuk melayani orang-orang yang sangat membutuhkan rindu untuk menyampaikan kebenaran kepada siapapun yang mau menerima, bahkan mendoakan jiwa-jiwa agar Tuhan menuntun saya bertemu dengan mereka, tetapi di sisi yang lain ketika banyak hal yang telah terjadi, orang mulai memuji saya, melihat pendeta-pendeta, orang-orang yang mengaku mengikuti Kristus tetapi tidak / belum menghidupkan kehidupan yang benar, betapa cepat saya menghakimi mereka.

Saya merasakan pengalaman seperti yang rasul Paulus sampaikan untuk orang-orang Roma

Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat yang aku perbuat.

Aku, manusia celaka ! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini ? Syukur kepada Allah ! oleh Yesus Kristus Tuhan kita.

Dan sama seperti apa yang saya sampaikan di atas, Tuhan perlu melakukan sesuatu terhadap hal itu.